Ramadhan tinggal menghitung jam, dan saya mengemas ulang artikel ini special saya persembahkan untuk muslim dan muslimah yang ingin berbuat kebaikan dan menyempurnakan ivadah saat bulan ramadhan. Meskipun kebanyakan kita sudah tahu karena materi ini pernah diajarkan saat masih sekolah dulu, sepertinya ada pentingnya saya mengingatkan agar perbuatan baik kita tepat sasaran dan tidak asal-asalan.

Saya mengatakan demikian karena keprihatinan pada mental sebagian masyarakat kita yang memanfaatkan momen ramadhan ini sebagai usaha sampingan. Masih bagus buat jualan,tapi malah buat mengemis dan mengamen dijalan. Nanti setelah lebaran bangun rumah dikampung ala orang gedongan. Sebagian orang yang “bai hati” mungkin tidak tega, tapi sadarkah kamu kalau perbuatan memberi pada mereka itu hanya memanjakan, bikin mereka tidak mau berusaha untuk mencari rezeki halal dan bangkit dari keterpurukan. Beberapa teman mungkin akan berpikir kalau beramal yang penting niatnya, selebihnya biar Allah yang menilai. Hey! Tapi ini masalah investasi akhirat, gak mau kan investasi yang sudah kita tanamkan ternyata bodong? Kalau nilainya sama, namun bisa lebih afdhol dengan keridhoan Allah, why not? Buat akhirat kok coba-coba?

 Lalu, sebenarnya siapa saja sebaiknya orang-orang yang berhak menerima Zakat, sedekah, dan Infak Kita?

Berdasarkan pada surat at Taubah ayat 58-60 tentang orang yang berhak menerima zakat, yaitu :

"... Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah bagi fakir miskin, para amil, para muallaf yang dibujuk hatinya, mereka yang diperhamba, orang-orang yang berutang, yang berjuang di jalan Allah, dan orang kehabisan bekal di perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Jadi berdasarkan firman Allah Swt tersebut, terdapat 8 golongan yang berhak menerima zakat :

1. Miskin
Fakir yaitu orang dalam kebutuhan, tapi dapat menjaga diri tidak meminta-minta. Miskin ini biasanya orang sudah punya pekerjaan tapi hasilnya selalu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Contohnya? Banyak.. Karena inflasi rupiah, kebutuhan sembako  harganya jadi meroket. Padahal kalau Cuma kerja dengan gaji pas-pasan apa lagi banyak tanggungan biasanya gajinya tidak cukup. Ini bisa disebut orang fakir. Saya pernah mengalaminya (lho?) swear, saat habis lulus sarjana, saya bekerja seadanya, malulah minta-minta terus sama orang tua.Apalagi orang tua saya bukan orang kaya.  Gaji 500 ribu dapet apa? Kenapa sarjana dg nilai cumlaude seperti saya mau? Ya, selain “bisikan setan”, pekerjaan seperti ini membuat saya mengerti arti dari kehidupan yang keras. Alhamdulillah saya sudah melewati masa-masa itu dan nggak sampai ngemis (hahaha) namun. Yang pasti pengalaman itu menjadikan saya lebih bijaksana


2.Fakir

Miskin adalah orang yang dalam kebutuhan dan suka meminta-minta. Fakir ini yang sering disalahgunakan sebagai “bisnis” yaitu dengan mengamen dan mengemis. Ada diantara mereka yang bener-bener miskin dan sudah tidak mampu lagi mencari pekerjaan karena usia. Contohnya nenek-nenek dan kakek-kakek yang sudah jompo dan tidak punya anak yang menangguk hidup mereka. Oya, inget hal ini saya punya contoh nyata yang jadi cerminan memprihatinkan bangsa ini. dekat daerah rumah saya ada kos-kosan, salah satunya dihuni oleh seorang nenek yang usianya 70an tahun, profesinya mengemis. Tahu? Dengan mengemis dia tidak hanya bisa makan atau bayar kos-kosan tapi juga mengirim uang untuk hidup anaknya di pulau Kalimantan. Jangan pikir anaknya usia sekolah, orang emaknya dan nenek-nenek, berati anaknya dah om-om dan tante-tantelah. Mungkin daripada tinggal dijawa malu memperbudak ibunya sedemikian rupa sehingga pikir mereka dari jauh saja. Dasar, anak durkaka! Na’udzubillah semoga kita bukan termasuk anak yang seperti itu.

3. Amil zakat 

Amil zakat merupakan orang yang melaksanakan segala urusan zakat berupa pengumpulan dan penjagaannya, serta menghitung keluar masuknya zakat. Jadi amil zakat ini termasuk perbuatan baik tapi cukup berat kalau imannya tidak kuat. Saya bisa mengatakan hal itu karena punya contoh kasus, didaerah tempat tinggal saya ada sebuah panti asuhan (tapi bukan panti asuhan yang ada dalam foto ini ya..) Ceritanya dia seorang haji yang memiliki beberapa binaan anak-anak yatim-piatu. Baik, sepertinya. Namun ada kasus ketika dia diserahi binatang kurban untuk dibagi-bagikan kepada anak binaan dan tetangganya yang miskin, tanpa ijin sipemberi kurban sebagian binatang kurban dipiara sampai beranak-pinak. Saya nggak mau suudzon tentang rumahnya yang mewah tanpa bekerja hanya mengandalkan sebagai pengurus panti asuhan. Tapi hal yang pasti kelihatan adalah “amanah” yang diemban itu harus dijaga ya...

4. Golongan muallaf


Awalnya dalam buku pelajaran dulu, mualaf itu hanya orang yang baru masuk Islam. Tapi ternyata banya jenisnya lho.. Muallaf dalam berbagai referensi terbagi dalam beberapa macam golongan, diantaranya : 

  • Golongan yang diharapkan keislamannya atau keislaman kelompok serta keluarganya
  • Golongan orang yang dikuatirkan kelakuan jahatnya
  • Golongan orang yang baru masuk Islam
  • Pemimpin dan tokoh masyarakat yang telah memeluk Islam yang mempunyai sahabat-sahabat kafir.
  • Pemimpin dan tokoh kaum Muslimin yang berpengaruh di kalangan kaumnya, akan tetapi imannya masih lemah.
  • Kaum Muslimin yang tinggal di benteng-benteng dan daerah perbatasan musuh.
  • Kaum Muslimin yang membutuhkannya untuk mengurus zakat orang yang tidak mau mengeluarkan, kecuali dengan paksaan.
  • Saya rasa seorang eks-pecandu narkoba yang bertobat juga golongan mualaf ya.. Biar istikomah tobatnya gitu
  1. Memerdekakan budak belian

Kesannya emang udah ketinggalan jaman ya? Tapi jangan salah jaman sekarang banyak juga yang tidak menyadari terjebak dalam perbudakan modern. Seperti Asisten Rumah Tangga yang tidak pernah digaji padahal sudah bekerja berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Saat gajinya mau diminta malah dia dianiaya. Atau kerja sebagai buruh namun tidak pernah dikasih libur, gaji pas-pasan, kerja pagi hingga petang, sambil dibully baik secara verbal maupun non-verbal. Sekarang banyak kejadian tanpa kita sadar.
Ada beberapa cara untuk memerdekakan budak, diantaranya yaitu: 

a. menolong hamba mukatab, yaitu budak yang memiliki perjanjian dengan tuannya, misalnya : ia sanggup menghasilkan harta dengan nilai dan ukuran tertentu, maka dia dibebaskan

b. Seseorang dengan harta zakatnya membeli seorang budak kemudian membebaskannya.

6. Gharim


Gharim adalah orang yang berhutang. Dan kta boleh menyerahkan zakat atas dasar fakirnya bukan karena hutangnya (Menurut Ibnu Humam dalam al Fath). Jaman sekarang setiap orang bisa jadi gharim setelah merebaknya berbagai finance dan bank yang membuka pinjaman bagi kalangan siapa saja tak hanya pengusaha. Kalau yang pinter manajemen bisa terbantu dengan utang, tapi kalau yang “polos” bisa terjerat hutang dan menjadi Gharim. Saya mengenal beberapa orang seperti ini, sampai minum oskadon tiap hari karena ditagih debt collector.  Tapi gak perlu saya kisahkan lah ya...

  1. Mujahidin
    Mujahidin merupakan orang yang berjihad di jalan Allah. DidalamAl-Quran digambarkan sasaran zakat yang ketujuh ini dengan firmanNya: "Di jalan Allah". Sabil berarti jalan. Jadi sabilillah artinya jalan yang menyampaikan pada ridha Allah, baik akidah maupun perbuatan. Sabilillah adalah kalimat yang bersifat umum, mencakup segala amal perbuatan ikhlas, yang digunakan untuk bertakkarub kepada Allah, dengan melaksanakan segala perbuatan wajib, sunat dan bermacam kebajikan lainnya. 

Mujahid ini tidak termasuk orang fanatik Islam yang meledakkan bom bunuh diri di bali, lho.. saya menyarankan kalau mau jadi mujahid macam ini lebih efektif langsung di Israel. Orang yang jadi teroris dinegeri sendiri ini bikin repot aja.  Mujahid itu ternyata bermacam-macam seperti ustadz yang ceramah di masjid-masjid, guru-guru yang mau tugas dipelosok Indonesia, bahkan seorang ayah yang mencarikan nafkah halal bagi keluarganya dengan ikhlas juga terhitung mujahid. Intinya orang-orang yang melaksanakan segala sesuatu atas nama ibadah sesuai dengan Qur’an dan hadist serta tidak ada muatan yang merugikan orang lain. Kira-kira begitu kalau saya terjemahkan.

  1. Ibnu sabil

Ibnu sabil atau musafir, yaitu orang yang melakukan perjalanan dari suatu daerah ke daerah lain. Menurut pendapat beberapa ulama, ibnu sabil mempunyai hak zakat, walaupun ia kaya, jika ia terputus bekalnya (kehabisan bekal).  Saya bisa dikatakan ibnu sabil, tapi insyallah bekal saya tidak terputus, jadi nggak perlu nrima zakat, hehe. Jadi ibnu sabil contohnya adalah anak kos, mahasiswa yang cari ilmu dibukan tempat kelahirannya, yang siapa tahu uang kiriman dari orang tuanya tersendat, itu boleh kita zakati. Dan masih banyak contoh yang lainnya...

Demikin 8 golongan orang yang berhak menerima zakat, sedekah, dan infak kita.. satu hal yang perlu dicatat, meskipun kita ingin berlomba dalam kebaikan dengan zakat dsb, orang-orang yang paling berhak menerima adalah yang terdekat dengan kita. Artinya pastikan dulu keluarga inti kita tidak dalam kekurangan, setelah terpenuhi hak mereka. Lihat keluarga misan atau saudara-saudara dari satu kake-nenek apakah masih ada yang kekurangan? Kalau masih bantu mereka dulu, jikalaupun mereka tidak perlu, lihat lingkungan tetangga kita , masih adakah yang termasuk dalam golongan diatas? Kalau ada bantu mereka juga. Nah, kalau menurut kita, semua orang terdekat kita sudah mampu bahkan elit semua, jangan cari 8 golongan orang ini dijalan tapi carilah tempat yang amanah yaitu melalui badan Amil Zakat seperti Baznas, Dompet Duafa, KPPU, dsb.

Yang jelas pastikan bahwa kinerja mereka teruji dan tersalur. Saya salut dengan badan amil seperti ini karena uang yang disalurkan bener- bener bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan tidak hanya rakyat pelosok di Indonesia tapi sampai rakyat Palestina dan negeri timur tengah yang sedang konflik. Kebanggaan saya bertambah yaitu biarpun rakyat kita pas-pasan, masih mampu dan mau membantu warga Palestina dengan membangun sekolah dan kamp-kamp pengungsian, Tepuk tangan, dong buat kita semua! Hehe.. Jadi mari  kita berzakat, bersedekah, dan berinfak yang tepat sasaran. Bismillah... *wallahu a'lam bisshowab